Ayat-ayat cinta March 10, 2008
Posted by mbahe in kontemporer. 3 comments
Gara-gara dikompor-kompori sama Kol. Novianto, tentang film ayat-ayat cinta. Sampai-sampai beliau posting di web MenwaUMS, Saya agak penasaran dengan film ini. Film yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Novelnya saya memang belum pernah baca. Saya langsung nyari kata kunci “ayat-ayat cinta” di google.com. Pertama kali saya nemu artikel di dengan judul Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk!. Saya baca juga artikel tersebut, sebagaimana saya duga, banyak bermunculan komentar di artikel tersebut. Lalu saya nyari lagi, ada artikel dengan judul “Film Ayat-ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat sebuah Analisa dari Ustad Lukaman”. Ada juga Ayat-ayat setan berkedok ayat-ayat cinta Wah gak jadi nonton yen ngono. Tapi akhirnya saya coba cari lagi komentar yang agak positif, misalnya di blognya atmaja.web.ugm.ac.id, atau di blognya mas Harry Sufehmi . Komentar yang agak “pertengahan” bisa anda baca di eramuslim.com dalam forum tanya-jawab.
Wah ternyata film ini menimbulkan banyak diskusi, perdebatan dan persepsi. Dan terutama saya jadi punya bahan buat mengisi blog saya ini.
Untuk soundtracknya sendiri, sebelumnya saya agak ragu dengan keIslaman film ini, Karena soundtrack lagu ini adalah Lagu dari Rossa, bukan Opick atau Hadad Alwi. Tapi saya ingat bahwa sang penulis sendiri mengatakan bahwa ini memang bukan film tentang agama, tapi kisah cinta. Ada baiknya anda baca juga Setelah nonton film ini, saya agak terhibur, karena soundtracknya bukan hanya lagu Ayat-ayat cinta saja, tapi melibatkan Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib. Cak Nun langsung sholawatan di awal film ini.
Layak Ditonton..
Akhirnya, Saya berpendapat, film ini layak untuk ditonton, dengan alasan, Film ini melibatkan ahli di bidang masing-masing. Ada Produser, sutradara, penulis novel, tokoh agama dll. Semuanya berkompeten di bidangnya. Coba baca Kisah di Balik Produksi Ayat-ayat cinta langsung dari pembuat filmnya, yaitu Mas Hanung Bramantyo.
Nah, saya kira untuk, rekan-rekan yang kurang sreg atau bahkan sangat tidak berkenan dengan kehadiran film ini, perlu membuat film yang benar-benar Islami dan bisa jadi sarana dakwah efektif. Karena menurut Pak Ersis, “menolak tanpa ada perubahan sama dengan bonek. Bagaimana tidak bonek, kelakuan tidak berubah, tetapi rasa tersinggung makin bertambah”. Ayo kita buat film…
tetaplah istiqomah March 4, 2008
Posted by mbahe in sholat. 3 comments
Salah satu hal yang paling saya inginkan sejak dulu adalah bisa melaksanakan sholat limawaktu dengan tepat waktu dan selalu berjamaah. Itulah sebabnya kenapa, cita-cita saya setelah lulus kuliah ingin berkarir di instansi Islam atau minimal instansi tersebut memperhatikan tentang permasalahan sholat ini. Dan keinginan utama saya aalah bebas waktu dan bebas finansial. Setahu saya Sholat limawaktu yang dilaksanakan tepat waktu adalah ibadah utama bagi umat Islam. Sholat lima waktu adalah oleh-oleh dari Kanjeng Nabi Muhammad,pada saat Isra’ Mi’raj.
Pada saat itu Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk melaksanakan sholat 50 waktu(jadi 24 jam kita sehari di bagi 50 waktu). Kemudian Nabi kita turun dan berjumpa Nabi-nabi terdahulu dan oleh mereka disarankan untuk minta kepada Allah agar menurunkan jumlah waktu sholat,hingga akhirnya menjadi 5 waktu seperti ini.TETAPLAH ISTIQOMAH.
Selamat Jalan Kang Gito March 1, 2008
Posted by mbahe in Tokoh Islam. add a comment
Tadi malam, 29 Februari, sewaktu saya sedang login di kantor saya, iseng-iseng saya buka m3-access.com. Saya agak terkejut membaca berita duka, tentang meninggalnya Gito Rollies. Secara hubungan darah, saya sama sekali tidak ada kaitannya dengan beliau. Tapi secara aqidah Insya Allah beliau adalah saudara saya. Sosok Gito Rollies, begitu saya kagumi, dan saya bertekad akan meneladani beliau. Latar belakangnya sebagai seorang Rocker yang kemudian hanya mengabdikan dirinya kepada Allah.
Beliau konsisten untuk terus berjuang di jalan Allah, sesuatu yang sangat sulit saya lakukan, sampai hari ini. Saya semakin sedih, ketika membaca tulisan mbak Asma Nadia. mengingat saat2 hidayah menyentuh saya, rasanya ingin menangis.
saya rindu masa itu. di saat tangis begitu mudah tumpah, di saat saya merasa allah begitu dekat dan selalu melihat saya, bersama saya, tak pernah jauh. setelah itu memang ada tangis-tangis yang lain… tp (seperti istilah kang gito) hanya tangis-tangis kecil, dibanding tangis pertama ketika kita hijrah”. Tapi beliau meninggal bukan untuk ditangisi, tapi untuk kita teladani….
Seorang tokoh bagi agama ini, yang telah memberikan sisa hidupnya mengabdi di jalan-Nya. Mungkin hanya lagu ini yang akan saya kenang……
“Cukup bagiku Allah Segalanya untukku
Dihati ku ini penuh terisi Segala tentang Allah
Kepada Nabi Muhammad Tercurah solawat Allah
Tiada tuhan selain Allah CUKUP BAGIKU ALLAH”
Innalillahi waina illahi rojiun. Selamat jalan Kang Gito…Semoga Allah menjadikan engkau salah satu Kekasih-Nya di Surga…