ah kau masih saja hadir di sini, meskipun kau disana. Tadi siang ketika 5 menit aku terlelap, bayangmu lewat begitu saja.
Semua sudah berlalu laaama sekali, namun terasa baru semenit yang lalu..
ah kau masih saja hadir di sini, meskipun kau disana. Tadi siang ketika 5 menit aku terlelap, bayangmu lewat begitu saja.
Semua sudah berlalu laaama sekali, namun terasa baru semenit yang lalu..
…Pengendaranya adalah seorang mahasiswi yang habis habisan berjuang agar segera lulus kuliah. Desi tampak tergesa gesa dengan sepeda motor Supra hitamnya. Tak lama kemudian lampu merah sudah berganti menjadi Hijau.” Hayya La Sholaah” terdengar sayup sayup dari masjid Kampus UMS yang tampak megah. Desi membelokkan motornya kekanan, menuju kosnya di daerah Nilasari.
Matahari semakin tenggelam, seiring Adzan Maghrib berkumandang sore itu. Jalan raya Ahmad Yani yang membentang dari Kerten Sampai kartasura, masih saja ramai dengan berbagai jenis Kendaraan. Lampu Merah di Pertigaan Kampus UMS baru saja menyala, ketika sebuah motor Astrea Supra berusaha keras melewati Truk Kontainer yang menghabiskan hampir separo jalan. Pengendaranya adalah….
Akhirnya nulis lagi di dagdigdug.com. Setelah sekian lama. Rencananya, saya ingin mengisi blog ini dengan cerpen saja. Sebenarnya tadi saya bimbang harus nulis dimana ? di layanan Dagdigdug.com atau di layanan blog lokal yang terkenal dengan konten berita tercepatnya. Lha kok bisa berubah 180 derajat gimana ceritanya? Continue reading
Sore itu, ketika langit di atas kota Solo beranjak gelap, sepasang mata terlihat berkaca kaca, di genggaman tangannya sepucuk kertas berwarna hitam dia baca berulang ulang. Seakan akan tak percaya, gadis itu melepaskan pandangan matanya menatap kosong lurus ke depan. Di dalam hatinya terasa ada sesuatu yang seketika lenyap, kosong dan hilang.
Ya, sepucuk kertas berwarna hitam itu bertuliskan undangan pernikahan sahabatnya, seorang lelaki yang selama ini sering sekali bersamanya. Menemani hari harinya ketika pertama dia menuntut ilmu di kota Solo ini, bahkan sampai sekian tahun mewarnai kehidupannya di sudut kota solo ini.
Di letakkannya undangan itu di samping layar monitor komputernya. Dia buka laci mejanya, disitu ada foto foto mereka berdua, dengan berbagai macam kegembiaraan yang saat itu terjadi diantara mereka. Saat itu hampir setiap saat mereka berbagi tawa, canda, kesedihan. Ahh. andai semua itu tak pernah terjadi, andai aku tak pernah bersahabat dengannya, andai aku tak penah bertemu dengannya, tentu aku tak akan menyesal seperti ini’bisiknya.
Gadis itu tak pernah menjalin hubungan seperti teman teman lainnya, pacaran atau apapun namanya. Ia hanya pernah merasa sangat dekat dengan lelaki itu, tapi bukan sebagai sepasang kekasih. Meski tanpa disadari, bahwa semua kenangan itu karena adanya perasaan takut kehilangan, perasaan saling memiliki.
Teman lelakinya tersebut sebenarnya sudah berulang kali memberikan sinyal untuk meneruskan hubungan itu ke arah yang lebih serius, tapi dia tak bisa menangkap hal itu.
Semua rasa itu mengalir begitu saja. Sampai pada akhirnya mereka berpisah untuk sementara. Beberapa tahun kemudian, terdengarlah berita bahwa sahabatnya itu akan menempuh hidup baru. Terisak dia mengenang semua cerita di antara mereka berdua. Ah kenapa sahabatnya itu harus mengatakan bahwa sebenarnya dia menaruh harapan yang besar, agar hubungan itu lebih dari sahabat. Kenapa itu baru di katakan pada saat sahabatnya itu sudah menjelang dia telah memilih gadis lain.
Kini semua tinggal penyesalan, semua telah terlambat. Di usapnya air matanya ketika terdengar adzan maghrib memanggil.
Yogyakarta, 2 Juni 2010
Dunia internet benar benar sebuah dunia yang aneh tapi menyenangkan. Hampir semua hal bisa kita dapatkan dari internet ini, informasi positif, maupun informasi yang negatif sekalipun. Ketika awal mengenal internet, tak terbersit sedikitpun untuk mencari penghasilan dari internet. Namun seiring waktu saya mulai serius untuk menekuni bisnis di internet ini. Continue reading
Saya sedang merasa sendiri saat ini. Meskipun hidup di Jakarta dengan berbagai hingar bingar di setiap sudut kota, namun semua itu tak mampu mengobati kesunyian ini. Blogger dan kerja di kantor itulah kehidupan saya sekarang. Apakah aku mencintai pekerjaanku di Kantor, atau pekerjaan itu adalah hobi saya. Jawabnya tidak, Saya belum pernah dengan senang hati berangkat kerja, selain disertai dengan keluhan, sambil sepanjang jalan memikirkan “kenapa aku harus bekerja di tempat ini”. Ah kenapa saya harus mengeluh seperti ini.
Continue reading
Saya agak penasaran dengan film ini. Film yang diangkat dari novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Novelnya saya memang belum pernah baca. Saya langsung nyari kata kunci “ayat-ayat cinta” di google.com. Pertama kali saya nemu artikel di dengan judul Film Ayat-Ayat Cinta = Buruk!. Saya baca juga artikel tersebut, sebagaimana saya duga, banyak bermunculan komentar di artikel tersebut. Lalu saya nyari lagi, ada artikel dengan judul “Film Ayat-ayat Cinta -Lebih Berbahaya Dari Film Maksiat sebuah Analisa dari Ustad Lukaman”. Ada juga Ayat-ayat setan berkedok ayat-ayat cinta Wah gak jadi nonton yen ngono. Tapi akhirnya saya coba cari lagi komentar yang agak positif, misalnya di blognya atmaja.web.ugm.ac.id, atau di blognya mas Harry Sufehmi . Komentar yang agak “pertengahan” bisa anda baca di eramuslim.com dalam forum tanya-jawab.
Wah ternyata film ini menimbulkan banyak diskusi, perdebatan dan persepsi. Dan terutama saya jadi punya bahan buat mengisi blog saya ini.
Untuk soundtracknya sendiri, sebelumnya saya agak ragu dengan keIslaman film ini, Karena soundtrack lagu ini adalah Lagu dari Rossa, bukan Opick atau Hadad Alwi. Tapi saya ingat bahwa sang penulis sendiri mengatakan bahwa ini memang bukan film tentang agama, tapi kisah cinta. Ada baiknya anda baca juga Setelah nonton film ini, saya agak terhibur, karena soundtracknya bukan hanya lagu Ayat-ayat cinta saja, tapi melibatkan Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib. Cak Nun langsung sholawatan di awal film ini.
Layak Ditonton..
Akhirnya, Saya berpendapat, film ini layak untuk ditonton, dengan alasan, Film ini melibatkan ahli di bidang masing-masing. Ada Produser, sutradara, penulis novel, tokoh agama dll. Semuanya berkompeten di bidangnya. Coba baca Kisah di Balik Produksi Ayat-ayat cinta langsung dari pembuat filmnya, yaitu Mas Hanung Bramantyo.
Nah, saya kira untuk, rekan-rekan yang kurang sreg atau bahkan sangat tidak berkenan dengan kehadiran film ini, perlu membuat film yang benar-benar Islami dan bisa jadi sarana dakwah efektif. Karena menurut Pak Ersis, “menolak tanpa ada perubahan sama dengan bonek. Bagaimana tidak bonek, kelakuan tidak berubah, tetapi rasa tersinggung makin bertambah”. Ayo kita buat film…
Salah satu hal yang paling saya inginkan sejak dulu adalah bisa melaksanakan sholat limawaktu dengan tepat waktu dan selalu berjamaah. Itulah sebabnya kenapa, cita-cita saya setelah lulus kuliah ingin berkarir di instansi Islam atau minimal instansi tersebut memperhatikan tentang permasalahan sholat ini. Dan keinginan utama saya aalah bebas waktu dan bebas finansial. Setahu saya Sholat limawaktu yang dilaksanakan tepat waktu adalah ibadah utama bagi umat Islam. Sholat lima waktu adalah oleh-oleh dari Kanjeng Nabi Muhammad,pada saat Isra’ Mi’raj.
Pada saat itu Nabi Muhammad diperintahkan Allah untuk melaksanakan sholat 50 waktu(jadi 24 jam kita sehari di bagi 50 waktu). Kemudian Nabi kita turun dan berjumpa Nabi-nabi terdahulu dan oleh mereka disarankan untuk minta kepada Allah agar menurunkan jumlah waktu sholat,hingga akhirnya menjadi 5 waktu seperti ini.TETAPLAH ISTIQOMAH.
Tadi malam, 29 Februari, sewaktu saya sedang login di kantor saya, iseng-iseng saya buka m3-access.com. Saya agak terkejut membaca berita duka, tentang meninggalnya Gito Rollies. Secara hubungan darah, saya sama sekali tidak ada kaitannya dengan beliau. Tapi secara aqidah Insya Allah beliau adalah saudara saya. Sosok Gito Rollies, begitu saya kagumi, dan saya bertekad akan meneladani beliau. Latar belakangnya sebagai seorang Rocker yang kemudian hanya mengabdikan dirinya kepada Allah.
Beliau konsisten untuk terus berjuang di jalan Allah, sesuatu yang sangat sulit saya lakukan, sampai hari ini. Saya semakin sedih, ketika membaca tulisan mbak Asma Nadia. mengingat saat2 hidayah menyentuh saya, rasanya ingin menangis.
saya rindu masa itu. di saat tangis begitu mudah tumpah, di saat saya merasa allah begitu dekat dan selalu melihat saya, bersama saya, tak pernah jauh. setelah itu memang ada tangis-tangis yang lain… tp (seperti istilah kang gito) hanya tangis-tangis kecil, dibanding tangis pertama ketika kita hijrah”. Tapi beliau meninggal bukan untuk ditangisi, tapi untuk kita teladani….
Seorang tokoh bagi agama ini, yang telah memberikan sisa hidupnya mengabdi di jalan-Nya. Mungkin hanya lagu ini yang akan saya kenang……
“Cukup bagiku Allah Segalanya untukku
Dihati ku ini penuh terisi Segala tentang Allah
Kepada Nabi Muhammad Tercurah solawat Allah
Tiada tuhan selain Allah CUKUP BAGIKU ALLAH”
Innalillahi waina illahi rojiun. Selamat jalan Kang Gito…Semoga Allah menjadikan engkau salah satu Kekasih-Nya di Surga…